Wednesday, August 6, 2008

the Magnificent 7



Sebelum CR7 dan David Beckham, pemakai No. 7 siapa lagi kalau bukan Eric "The King" Cantona, sang maestro asal Perancis yang dianggap fans United sebagai mesiah atau juru selamat yang membawa mereka ke era kejayaan. Berlebihan? Tidak kiranya, Eric Cantona adalah seorang pemain depan berkemampuan komplit dengan visi jenius. Saat Cantona memasuki lapangan saja, auranya sekelilingnya sangat luar biasa, dengan stylenya yang khas yaitu kerah baju diangkat ke atas, ia terlihat anggun bahkan mungkin mendekati angkuh, tapi juga mendominasi. Cantona selain konsisten mencetak gol, ia juga playmaker yang sangat piawai, bak seorang pemimpin orkestra memimpin rekan2nya memborbardir pertahanan lawan. Prestasinya tak usah ditanya, Dua kali "double" EPL dan FA Cup sudah merupakan jaminan menterengnya. Keputusannya untuk pensiun diratapi oleh semua fans United di dunia ini tanpa terkecuali, seakan-akan anak ayam kehilangan induknya. Beruntunglah Class of’92, yang salah satunya adalah Beckham, mendapatkan kesempatan merasakan daya magis Cantona secara langsung.

Setelah era Cantona dan Beckham, penerus No. 7 berikutnya hingga saat ini yaitu pemuda asal Madeira bernama Cristiano Ronaldo yang saat pertama kali melakukan debut Unitednya masih berusia 18 tahun juga langsung memberikan sebuah peragaan karya seni nan indah pada publik Old Trafford yang cemas bercampur penasaran. Kedua kaki bocah Portugal itu seakan mempunyai nyawa dan pikiran sendiri, bergerak lincah memainkan berbagai trik pada bola dan dengan campuran kecepatannya yang tidak bisa dipercaya akal sehat, menipu lawan di depannya. Pemain bertahan Bolton yang 'beruntung' dijadikan lawan saat debut, dibuatnya kocar kacir dan seakan belum pernah belajar bermain sepakbola. Kini pada usianya 22 tahun CR7 - demikian Cristiano Ronaldo biasa disebut - semakin matang dan musim ini sukses membawa Manchester United 'Keep Flying High' menantang di 3 front untuk mengulang kesempatan musim ajaib “treble”. Ia juga sukses memenangkan taruhan jumlah gol semusim dengan Sir Alex Ferguson dengan mencetak 15 gol untuk United hanya dalam separuh musim saja. Hanya Tuhan yang tahu seberapa jauh CR7 akan melangkah di usianya yang masih muda ini.

Eric Cantona, David Beckham, dan Cristiano Ronaldo, ketiga pemain ini mempunyai beberapa kesamaan. Mereka adalah pemain bertalenta tinggi dengan skill tinggi nan indah yang mampu mempesona publik; Ke-3 pemain ini, bagi MU adalah pemain yang sangat penting di masanya masing-masing; Dan terakhir ke-3 pemain inilah yang atau pernah mengenakan seragam keramat United No. 7 atau disebut juga Magnificent Seven. Berbeda dengan klub2 sepakbola umumnya, di United, No. 7 dianggap sebagai nomor keramat dibandingkan nomor lainnya bahkan nomor sepuluh sekalipun. Bagi para fans United, pemakai No. 7 haruslah seseorang yang mampu mengubah permainan tim dan membawa kemenangan. Bila dirunut dari mantan No. 7 sebelum Eric Cantona seperti Bryan Robson, Steve Coppell,Willie Morgan, dan George Best. Stigma No. 7 sebagai nomor keramat mungkin dapat dimengerti.

Bryan Robson, The Marvel Captain melalui masa dua orang manajer yaitu Ron Atkinson dan Sir Alex Ferguson, tapi bagi kedua manajer, perannya tak tergantikan sebagai inspirator tim, ada ungkapan “saat Bryan Robson bermain, United tidak akan kalah,” namun justru sayangnya ia sering cedera dan kegemarannya pada alkohol memperparah keadaan, walaupun kemudian ia sadar dan menguranginya.
George Best, salah satu dari Busby Babes, banyak dianggap sebagai pemain paling hebat yang pernah ada,melebihi Pele maupun Maradona. Mungkin agak berlebihan tapi ini menggambarkan skillnya Best yang luar biasa yang juga sayangnya sering disia-siakan pemiliknya dengan hidup tidak disiplin dan hura-hura dan akhirnya tidak mampu menolong United bangkit dari kemerosotan tahun 1970’an.
Penerusnya Willie Morgan, jauh dari kementerengan Best dan sialnya bermain di masa sejarah gelap United, tapi masih mampu menyumbangkan 34 gol. Bisa jadi dialah No. 7 yang tidak pernah merasakan kejayaan United sebelum digantikan Steve Coppell.
Steve Coppell, digambarkan sebagai gabungan George Best dan David Beckham alias sempurna dan sukses mengangkat kembali United ke League One, tapi sial tak bisa ditolak akhirnya karir Coppell harus berhenti pada usia 28 tahun karena cedera parah.

Ternyata anggota ‘klub’ Magnificent Seven ini selain eksklusif juga penuh cobaan atau lebih tepatnya seperti ada kutukannya yang harus dilalui agar sukses.
Eric Cantona sedari awal memang temperamental, di tahun 1995 saat United bertandang ke markas Crystal Palace, Selhurst Park, tidak mampu menahan emosinya saat diejek oleh Matthew Simmons salah satu fans lawan. Yang terjadi adalah kejadian historikal, tendangan kungfu Eric Cantona pada fans itu selalu teringat jelas kalau bukan menjadi mimpi buruk bagi United. Sentuhan Alex Ferguson terinspirasi istrinya Cathy yang akhirnya menyebabkan Cantona tetap bertahan di United. Kembalinya Cantona ke lapangan, lagi-lagi dengan style yaitu sebuah gol ke gawang Liverpool dan “double” kedua untuk United musim itu juga.
David Beckham, kejadian memalukan di World Cup 1998 saat dirinya diusir dari pertandingan Inggris dengan Argentina yang akhirnya Inggris kalah via adu penalty. Publik Inggris mencari kambing hitam kekalahan tersebut dan Beckhamlah yang dijadikan sebagai tempat pelampiasan. Awal musim 1998/99, di setiap pertandingan terutama tandang, Becks selalu mendapat ejekan fans lawan, tapi dengan dukungan Fergie, rekan2 Unitednya, dan seluruh fans United, Becks akhirnya mempersembahkan prestasi “treble” dan sekaligus puncak dari segala puncak prestasi yang pernah dilakukan klub Eropa sekaligus membungkam publik yang menyalahkannya secara tidak fair.
Cristiano Ronaldo, seperti mengulang kejadian Becks tapi bedanya kali ini ia dianggap biang kerok diusirnya favorit Inggris dan rekan Unitednya Wayne Rooney saat pertandingan Inggris dengan Portugal di World Cup 2006, Inggris kembali harus kalah penalti. Publik Inggris kembali mencari kambing hitam dan kali ini CR7 yang mendapat jatah. Dan saat itu merupakan saat terpanas dan penuh kecemasan bagi CR7 yang kuatir keamanannya dan keluarganya di Inggris, dan juga seluruh fans yang kuatir CR7 akan hengkang dari United. Kembali campur tangan Fergie dan akhirnya CR7 tetap kembali ke Old Trafford, bersahabat baik dengan Rooney dan sebaliknya, serta berdua mengantarkan United sebagai klub paling menakutkan bagi lawan-lawannya. Publik pun kembali terdiam dan terpesona seperti saat David Beckham dulu. (dikutip dari berbbagai sumber )

1 comment:

mamaino said...

waduhhh... bola?
aduhhhh, ga ngerti..

hehehehe... (ga jelas banget ya nulis ini) :D